Pendidikan Indonesia: Ketika Anak Bersekolah Belum Tentu Belajar

A
admin
1 dibaca
Pendidikan Indonesia: Ketika Anak Bersekolah Belum Tentu Belajar

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang akhir-akhir ini semakin sering muncul dalam pikiran saya:

Sebenarnya, untuk apa anak-anak kita bersekolah?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk sebuah persoalan sebesar pendidikan Indonesia.

Selama bertahun-tahun kita telah membangun sekolah, menambah anggaran pendidikan, memperluas akses, meningkatkan kesejahteraan guru, mengganti kurikulum, memperkenalkan berbagai platform digital, menyelenggarakan pelatihan, membuat asesmen baru, dan meluncurkan berbagai program peningkatan mutu.

Semua itu penting.

Tetapi pada akhirnya kita perlu kembali kepada pertanyaan paling mendasar:

Apakah anak-anak kita benar-benar belajar?

Sebab bersekolah dan belajar adalah dua hal yang berbeda.

Seorang anak dapat hadir di sekolah setiap hari selama enam tahun, tetapi belum tentu mampu membaca dengan pemahaman yang baik. Ia dapat memperoleh nilai yang tinggi, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa jawabannya benar. Ia dapat menghafal banyak konsep, tetapi belum tentu mampu menggunakan pengetahuan itu ketika menghadapi persoalan nyata.

Di sinilah saya merasa kita perlu berhenti sejenak dan melakukan refleksi.

Kita terlalu lama melihat pendidikan dari sisi yang mudah dihitung

Kita senang dengan angka.

Berapa sekolah yang sudah dibangun?

Berapa guru yang sudah mengikuti pelatihan?

Berapa siswa yang lulus?

Berapa nilai rata-rata?

Berapa perangkat digital yang sudah tersedia?

Berapa persen sekolah yang sudah menjalankan program tertentu?

Semua angka itu penting. Tetapi angka-angka tersebut pada dasarnya adalah input dan proses.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

Apa yang sebenarnya berubah dalam diri seorang anak setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan?

Apakah ia menjadi lebih mampu berpikir?

Apakah ia menjadi lebih mampu membaca dan memahami dunia?

Apakah ia mampu memecahkan masalah?

Apakah ia memiliki rasa ingin tahu?

Apakah ia mampu bekerja sama dengan orang lain?

Apakah ia memiliki karakter yang baik?

Apakah ia mampu belajar tanpa selalu menunggu seseorang menyuruhnya?

Dan yang paling penting:

Apakah pendidikan membuatnya memiliki masa depan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar menghitung jumlah lulusan.

Kita sering mencari siapa yang salah

Ketika hasil belajar siswa tidak memuaskan, kita mudah mencari penyebab.

Guru dianggap kurang kompeten.

Kurikulum dianggap terlalu rumit.

Siswa dianggap kurang motivasi.

Orang tua dianggap kurang peduli.

Sekolah dianggap tidak mampu mengelola.

Pemerintah dianggap terlalu banyak membuat kebijakan.

Birokrasi dianggap terlalu berbelit.

Masing-masing mungkin memiliki sebagian kebenaran.

Tetapi saya semakin percaya bahwa pendidikan tidak dapat dipahami dengan mencari satu pihak yang harus disalahkan.

Guru bekerja di dalam sistem.

Siswa belajar di dalam lingkungan.

Orang tua mendampingi dalam kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda-beda.

Sekolah bekerja di bawah kebijakan dan birokrasi.

Kurikulum diterjemahkan melalui pembelajaran.

Dan pembelajaran pada akhirnya dipengaruhi oleh bagaimana seluruh sistem tersebut bekerja bersama.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Siapa yang salah?”

Melainkan:

“Bagian mana dari sistem kita yang membuat anak belum belajar sebaik yang seharusnya?”

Guru bukan masalah utama, tetapi guru adalah kunci

Saya tidak percaya bahwa persoalan pendidikan Indonesia dapat diselesaikan dengan menyalahkan guru.

Di tengah berbagai keterbatasan, kita menemukan banyak guru yang setiap hari datang ke kelas dengan sungguh-sungguh.

Mereka mengenal muridnya.

Mereka tahu siapa yang belum lancar membaca.

Mereka tahu siapa yang kesulitan berhitung.

Mereka tahu siapa yang diam-diam sedang memiliki persoalan di rumah.

Mereka mencoba mencari cara agar anak yang tertinggal tidak semakin tertinggal.

Namun pada saat yang sama, guru juga menghadapi pekerjaan yang semakin kompleks.

Mengajar.

Menilai.

Membuat perangkat.

Mengisi berbagai administrasi.

Mengikuti rapat.

Mengikuti pelatihan.

Menggunakan berbagai aplikasi.

Membuat laporan.

Berkomunikasi dengan orang tua.

Menjalankan program.

Dan masih banyak lagi.

Kita kemudian berkata kepada guru:

“Tingkatkan kualitas pembelajaran.”

Tetapi pertanyaannya:

Apakah kita sudah memberikan cukup waktu kepada guru untuk benar-benar memikirkan pembelajaran?

Guru yang baik membutuhkan waktu untuk mengamati anak, membaca hasil asesmen, merancang pembelajaran, mencoba strategi, memberikan umpan balik, dan melakukan refleksi.

Jika waktu itu habis untuk pekerjaan administratif, maka kita sebenarnya sedang mengambil sesuatu yang sangat berharga dari pendidikan:

waktu guru untuk berpikir.

Kurikulum bukan sekadar dokumen

Kita sering menyalahkan kurikulum.

Setiap kali hasil pendidikan belum sesuai harapan, muncul keinginan untuk memperbaiki atau mengganti kurikulum.

Padahal kurikulum yang baik pun tidak akan banyak berarti jika tidak diterjemahkan menjadi pembelajaran yang baik.

Yang jauh lebih penting adalah keselarasan antara tiga hal:

Apa yang ingin kita capai → bagaimana kita mengajarkannya → bagaimana kita mengukurnya.

Jika kita mengatakan bahwa anak harus mampu bernalar, tetapi pembelajaran masih didominasi hafalan, maka terjadi ketidaksesuaian.

Jika kita mengatakan bahwa kreativitas penting, tetapi semua jawaban harus seragam, maka pesan yang diterima anak berbeda dari apa yang tertulis dalam dokumen kurikulum.

Jika kita mengatakan bahwa karakter penting, tetapi keberhasilan siswa hanya diukur dari nilai akademik, maka anak akan belajar apa yang benar-benar dihargai oleh sistem.

Anak bukan hanya belajar dari apa yang kita katakan.

Mereka belajar dari apa yang kita ukur, apa yang kita beri penghargaan, dan apa yang kita lakukan setiap hari.

Asesmen seharusnya menjadi cermin, bukan tujuan

Saya juga semakin menyadari bahwa asesmen memiliki kekuatan yang sangat besar.

Apa yang kita ukur akan memengaruhi apa yang diajarkan.

Jika yang kita ukur adalah hafalan, maka sekolah akan mengejar hafalan.

Jika yang kita ukur adalah kemampuan mengerjakan soal, maka sekolah akan melatih kemampuan mengerjakan soal.

Tetapi jika kita ingin anak mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, memahami bacaan, berkomunikasi, dan menerapkan pengetahuan, maka asesmen harus memberikan ruang untuk kemampuan tersebut.

Asesmen seharusnya menjadi cermin.

Ia memberi tahu kita:

Anak ini sudah sampai di mana?
Apa yang belum dikuasainya?
Mengapa ia mengalami kesulitan?
Intervensi apa yang diperlukan?
Apakah intervensi yang kita lakukan berhasil?

Yang berbahaya adalah ketika cermin tersebut justru berubah menjadi tujuan.

Sekolah kemudian sibuk memperbaiki angka, bukan memperbaiki pembelajaran.

Jangan pula menjadikan orang tua sebagai kambing hitam

Pendidikan tidak berhenti di sekolah.

Rumah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak.

Namun kita juga harus berhati-hati.

Tidak semua orang tua memiliki waktu, pendidikan, kondisi ekonomi, atau kemampuan yang sama untuk mendampingi anak.

Jika sekolah hanya berhasil mendidik anak yang memiliki keluarga sangat mendukung, maka sekolah sebenarnya belum menjalankan fungsi pemerataannya secara optimal.

Justru anak yang datang dari lingkungan yang kurang mendukung membutuhkan sekolah yang lebih kuat.

Karena itu, pendidikan seharusnya bukan sekadar memperbesar keunggulan anak-anak yang sudah memiliki banyak dukungan.

Pendidikan harus menjadi jalan untuk mengurangi kesenjangan.

Mungkin masalah kita bukan kekurangan program, tetapi kelebihan program

Ada satu hal yang menurut saya layak direnungkan.

Kita sering berpikir bahwa ketika ada masalah pendidikan, jawabannya adalah membuat program baru.

Masalah A → program A.

Masalah B → program B.

Masalah C → aplikasi C.

Kemudian guru harus menjalankan semuanya.

Padahal setiap program membutuhkan waktu, energi, administrasi, koordinasi, dan pelaporan.

Pada titik tertentu, kita perlu bertanya:

Apakah program-program tersebut benar-benar membuat anak belajar lebih baik?

Jika jawabannya tidak jelas, mungkin kita perlu berhenti menambah program dan mulai memperbaiki program yang sudah ada.

Sebab pendidikan tidak selalu membutuhkan lebih banyak hal.

Kadang-kadang pendidikan membutuhkan lebih sedikit hal, tetapi dilakukan dengan lebih baik.

Teknologi bukan jawaban untuk semua persoalan

Kita hidup di era ketika teknologi dan kecerdasan buatan berkembang sangat cepat.

Sekolah mulai menggunakan berbagai aplikasi.

Guru memiliki akses kepada ribuan sumber belajar.

Siswa dapat memperoleh informasi hampir tanpa batas.

Ini adalah peluang besar.

Tetapi teknologi tidak otomatis membuat pendidikan menjadi lebih baik.

Jika metode pembelajarannya masih sama, teknologi hanya membuat cara lama menjadi lebih cepat.

Kita bisa mengganti buku dengan tablet.

Mengganti papan tulis dengan layar interaktif.

Mengganti lembar kerja dengan aplikasi.

Tetapi jika anak tetap hanya duduk, mendengar, menghafal, dan mengerjakan soal, maka hakikat pembelajarannya tidak banyak berubah.

Teknologi seharusnya memperkuat pedagogi, bukan menggantikannya.

Barangkali kita perlu kembali ke ruang kelas

Di tengah berbagai perdebatan tentang kebijakan pendidikan, saya justru semakin percaya bahwa perubahan terbesar sering kali terjadi di tempat yang sangat sederhana:

ruang kelas.

Di sana ada seorang guru.

Ada anak-anak.

Ada papan tulis.

Ada buku.

Ada pertanyaan.

Ada rasa ingin tahu.

Ada kesalahan.

Ada diskusi.

Ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Dan mungkin perubahan pendidikan Indonesia sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan sederhana seorang guru sebelum pelajaran dimulai:

“Apa yang harus berubah dalam diri anak-anak saya setelah pembelajaran hari ini?”

Bukan:

“Materi apa yang harus saya habiskan?”

Tetapi:

“Apa yang harus dipahami anak?”

Bukan:

“Bagaimana supaya nilai mereka tinggi?”

Tetapi:

“Apa yang belum mereka kuasai, dan bagaimana saya membantu mereka?”

Bukan:

“Bagaimana saya menyelesaikan semua administrasi?”

Tetapi:

“Apakah waktu saya hari ini lebih banyak digunakan untuk membantu anak belajar atau untuk mengurus hal-hal tentang pembelajaran?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu mungkin tidak akan mengubah sistem pendidikan dalam satu malam.

Tetapi ia dapat mengubah satu kelas.

Dan satu kelas yang berubah dapat mengubah kehidupan beberapa anak.

Beberapa anak yang berubah dapat mengubah satu keluarga.

Dan jutaan kelas yang berubah perlahan-lahan dapat mengubah pendidikan sebuah bangsa.

Pendidikan bukan tentang membuat anak menjadi sempurna

Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah cara kita memandang keberhasilan pendidikan.

Sekolah bukan pabrik yang menghasilkan anak dengan ukuran yang sama.

Anak bukan angka dalam tabel.

Guru bukan operator program.

Kurikulum bukan sekadar dokumen.

Nilai bukan keseluruhan makna belajar.

Dan sekolah bukan sekadar tempat untuk mendapatkan ijazah.

Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana seorang anak perlahan-lahan menemukan:

“Saya bisa belajar.”

“Saya boleh bertanya.”

“Saya boleh salah.”

“Saya bisa mencoba lagi.”

“Saya mampu memecahkan masalah.”

“Saya dapat bekerja bersama orang lain.”

“Saya memiliki sesuatu yang bisa saya kontribusikan.”

Dan pada akhirnya:

“Saya mampu belajar tanpa harus selalu diajari.”

Mungkin itulah salah satu tujuan pendidikan yang paling penting.

Lalu, ke mana pendidikan Indonesia harus bergerak?

Menurut saya, kita tidak membutuhkan perdebatan tanpa akhir tentang siapa yang paling bersalah.

Kita membutuhkan keberanian untuk memperbaiki ekosistem.

Memberikan guru lebih banyak ruang untuk mengajar dan berpikir.

Mengurangi birokrasi yang tidak memberikan nilai tambah bagi pembelajaran.

Menyelaraskan kurikulum, pembelajaran, dan asesmen.

Menggunakan data untuk menemukan masalah, bukan sekadar membuat laporan.

Membangun kepemimpinan sekolah yang mendukung guru.

Menguatkan keterlibatan orang tua tanpa menyalahkan keluarga.

Menggunakan teknologi secara bijaksana.

Dan yang paling penting:

mengembalikan pusat dari seluruh kebijakan pendidikan kepada anak.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak kebijakan yang berhasil kita buat.

Bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang berhasil kita bangun.

Bukan tentang seberapa banyak laporan yang berhasil kita kumpulkan.

Bukan pula tentang seberapa banyak program yang berhasil kita luncurkan.

Pendidikan pada akhirnya hanya memiliki satu ukuran keberhasilan yang paling fundamental:

Apakah anak-anak kita menjadi manusia yang lebih mampu belajar, berpikir, berkarakter, dan menjalani kehidupannya dengan lebih baik karena pernah bersekolah?

Jika jawabannya semakin banyak “ya”, maka kita sedang bergerak ke arah yang benar.

Jika jawabannya masih “belum”, maka tidak ada salahnya kita berhenti sejenak.

Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Tetapi untuk bertanya dengan jujur:

“Apa yang harus kita ubah mulai hari ini?”


Kembali ke berandaKategori: Pendidikan